The art of publishing

Mimpi yang dipudarkan zaman

"Nanti kalau sudah besar Bang io pengen jadi apa?"
"Pilot, Bang io mau jadi pilot"
"Kenapa?"
"Bisa telbang, Bang io pengen bisa telbang"

Ouh.... masa kecil yang indah, dengan mimpi yang indah, kehidupan yang diwarnai dengan sejuta impian, dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang yang mencintaiku. dikelilingi dengan semangat-semangat yang didasari pada kasih sayang Bunda.

Walau kini Ibuku telah tiada, namun darahnya yang mengalir di ragaku tetap membuat namanya abadi dalam hidupku.

Diatas adalah petikan obrolan antara aku dengan ibuku. saat itu aku masih kecil, hal ini aku dapat dari cerita orang, sebab aku sendiri sudah tidak ingat lagi tentang percakapan yang konon lebih dari seratus kali aku ucapkan tersebut. Sebenarnya tidak hanya ingin menjadi pilot, Io kecil juga sempat bermimpi untuk menjadi Presiden, entah apa alasanku memilih dua profesi ini sebagai impian.

Mungkin karena nilai mereka saat itu yang teramat luar biasa, siapa yang tidak mau menjadi seperti Soeharto? sebagai pemimpin yang semua rakyat nya patuh padanya. atau seperti Astronot, yang konon pernah menginjakkan kakinya ke bulan, huh.... Masa kecil yang teramat indah.

Namun, seiring berjalannya jaman, mimpi itu kini telah pudar, benar-benar hilang dari lubuk hati yang paling dalam, tidak ada lagi yang tersisa. Punah, layaknya sebatang bambu kering, yang dimakan api, hanya menyisakan abu-abu penyesalan, mengapa dulu memimpikan profesi itu.

Ah... mudah saja kita bermimpi, indah saja mimpi itu, dah akhirnya akan hilang, menjadi Mimpi yang dipudarkan zaman.

Duhaiii. kawan, apa mimpimu dimasa kecilmu? apakah sama sepertiku?

Tag : cerpen
0 Komentar untuk "Mimpi yang dipudarkan zaman"

Adab berkomentar : #1 Dont OOT #2 Jangan Nyepam #Bukan Link Hidup Komentar yang dianggap SPAM akan dihapus secara otomatis

Back To Top