The art of publishing

karet, antara kebutuhan dan harga

Kulat Karet : salah satu komodity masyarakat balai agas
Foto : Dok Pribadi Penulis
"harga karet sekarang merosot jauh ke Rp. 6.500 /Kilogram, untuk membeli sekilo gula, kita harus menukarnya dengan 3 Kg kulat karet." ujar neko, salah seorang penyadap karet di Desa Balai Agas. pernyataan tersebut memang beralasan kuat, mengingat harga karet didesa tersebut turun mencapai sepertiga dari harga awal Rp.19.000 menjadi Rp.6.500/Kg.


Penderitaan Masyarakat desa Balai Agas semakin bertambah dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok. seperti beras, gula dan lain sebagainya.

"Dari nenek moyang kami dulu memang sudah bekerja sebagai penyadap karet". begitu kata salah seorang penyadap karet saat ditanya mengapa tidak mengubah mata pencarian. dikatakan pula bahwa meraka tidak memiliki keahlian lain selain menyadap karet.

Dok : Facebook Pa. Ahmad
Mobil Ujang saat membawa barang
Hal lain yang menyebabkan system berbanding-terbaliknya harga antara kebutuhan pokok dengan karet ini juga diakibatkan parahnya akses transportasi kedesa ini, "Amprahnya untuk satu kilo itu Rp.2.000 - Rp.2.500. jadi kalau pedagang membeli Rp. 6.500 di kampung sini, harus dijual kepinoh dengan harga lebih dari Rp. 9.000/Kg nya, begitu juga harga kebutuhan pokok, jika semen itu harganya dipinoh senilai Rp.90.000, Amprahnya Rp.2.500 x 50Kg = 125.000, jadi total modal semen satu karung itu mencapai Rp.215.000, jadi bisa anda perkirakan berapa kami harus menjual semen 1 karung di balai agas." terang pak angas, seorang pedagang sekaligus pengumpul karet di balai agas.

"disini harus menggunakan mobil strada bang, kalau mobil yang bukan double gardan tidak bisa, kita tau sendirilah bagaimana kondisi jalan disini, dan barang yang dibawa tidak lebih dari 1 ton'. ungkap Ujang Jod, seorang pemilik mobil yang seringkali mengangkut barang dan kulat kedesa balai agas.

"setiap satu rit, itu ada saja alat yang rusak, yang pasti itu kampas rem, satu ret pasti ganti, belum lagi gardan. dan rantai transfer yang sering rusak karena dipaksa, kalau tidak dipaksa ya tidak bisa jalan, kalau kampas rem biayanya Rp.300.000,-, kalau gardan Rp.2.700.000 sekali service, jadi amprah yang kita terima, terkadang tidak sesuai dengan biaya yang harus kita keluarkan, belum lagi minyak mobil, upah kenek dan sebagainya., seringkali kita tekor.". kata pak jaga, pemilik sekaligus sopir sebuah mobil strada triton berwarna silver yang sudah penyok-penyok karena terbentur dengan tebing tanah.

Foto : Dok  facebook
Yono sedang mengganti bearing roda
"sebenarnya jika jalan bagus, tentu amprahnya tidak terlalu tinggi, jalan kayak gini, pemilik mobil harus mengganti sperpart mobil tiap saat, nggak awet tuh sperpat, yang original pun pasti cepat rusak". tambah ademus mulyono (yono), seorang mekanik yang juga merupakan masyarakat desa balai agas.


sungguh memprihatinkan sekali nasib masyarakat didesa yang satu ini, semoga pemerintah bisa lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat.spertinya pangkal masalahnya hanya satu disini, yaitu masalah jalan.
Tag : artikel
0 Komentar untuk "karet, antara kebutuhan dan harga"

Adab berkomentar : #1 Dont OOT #2 Jangan Nyepam #Bukan Link Hidup Komentar yang dianggap SPAM akan dihapus secara otomatis

Back To Top