The art of publishing

berkelana

Pemuja-pemuja itu , memusatkan harapan dan segala impiannya, pada batu-batu terpahat di baju atas bahunya. Apakah jabatan membuat mereka merasa aman dari penderitaan ?

Pemuja-pemuja itu, menumpahkan asa mereka, pada benda-benda tak bernyawa : uang dan harta benda menjadi tumpuan jiwa, tuk meraih bahagia, dalam segala gerak dan cita rasa, dalam segala aktivitas kerja mau pun cinta.



Para pemuja itu semua, luruh dalam doa dan angan-angannya, pada pola harta benda dan kehormatan dunia sebagai ukuran : Aman sejahtera tidak gelisah, tenang tak lelah, bercengkrama santai tak gusar, dan menikmati seluruh rasa dengan sepenuh gelora jiwanya.

Tapi bagaimana bisa ? Bagaimana bisa pujaan-pujaan mereka menetakkan itu semua. Yang sesungguhnya ia tak faham satu huruf saja dari setiap kata dan kalimatnya
Bagaimana bisa ? Jabatan kehormatan membuat diri tak berkeluh kesah. Yang sesungguhnya ia hanya dibuat-buat saja .Oleh karena suatu pandangan yang lemah: betapa labilnya.

Bagaimana bisa ? Harta benda membuat tegur sapa jadi bergairah. Dan membuat seluruh rasa utuh tak terpecah ? Yang sesungguhnya, Ia tak ada apa dan tak bisa apa. Selain hanya karena bikinan pandang para pemujanya yang membuat-buat seakan bisa segalanya dengannya

Bagaimana bisa ? Yang berkelana dan berkarya. Memedomi ukuran si mati tak kreatif, dan tak memiliki reaksi apa-apa pada masa depan yang sebenarnya.

Mereka semua. Adalah orang-orang yang dalam kelananya. Dikebiri rasa takut yang tak terkira, gelisah berkepanjangan. Dikejar-kejar Kegamangan; Benar-benar memenjarakannya; kenyataan diri dengan karyanya yang tak kekal, dan habis musnah adalah niscaya.

Mereka Benar-benar gemetar . Oleh rasa lapar yang tak henti-henti melilit perutnya. Pada ketak-nyamanan yang disangkakan saja. Yang tak sebenarnya.

Mengapa tak mereka coba. Dalam doa dalan sembahyang. Melepaskan lenyap sekat-sekat itu semua. Mengosongkannya dari segenap jiwa. Lalu menautkan gerak kalbu kita. Pada kedermawanan pertolongan-Nya. Biarkan Allah memilihkan buat kita. Biarkan Tuhan yang maha kasih menetapkan untuk kita. Betapa aku tak ingin mencampuri ketetapan-Nya. Aku hanya ingin bersujud, meluruhkan diri, memeriahkan hati, menangiskannya , hanya untuk-Nya. Meluruhkan asa dan fikiran, melumatkan segenap harapannya. Seluruhnya. Pada-Nya. Lalu berbakti dan tak banyak bertanya. Lalu menikmati dengan gembira hati pada yang bisa didapat. Dari-Nya.

Bukankah cukup : Bagi kelapangan jiwa, bagi keutuhan rasa. Apa yang diperolehnya adalah hal yang bisa dinikmati dengan sempurna.

Yah…… Menikmati dengan sempurna. Hingga tak ada rasa takut rasa kecewa bertandang tak berguna. Hingga sepercik yakin terpahat dalam jiwa : Bahwa setiap diri manusia. Adalah menjadi bagian tak perlu ditanya pula : Ujian dan derita ; Ketak-nyamanan rasa gelisah. Menjadi landasan siapa yang terbaik diantara mereka. Menjadi kenyataan yang meringankan jalan kelana. Dan menumbuhkan kebahagiaan yang sempurna.

Kemarilah. Mencoba meluruhkan asa dan segala cita. Pada firman-nya, pada janji-Nya yang tak cedera. Tuhan maha benar. Bahwa hamba yang yang berbakti. Dan membersihkan diri dari sekat-sekat materi : Pangkat tinggi, kekayaan, dan kepuasan birahi. Kan peroleh saksi bagi pencatat amal. Tuk menempatkan sorga, rumah tempat tinggal yang kekal baginya.

Kemarilah. Mari bersama kita berkelana. Dan berbakti tuk melahirkan rasa aman dan kepekaan jiwa . Hingga hidup kita bahagia.
Tag : puisi
0 Komentar untuk "berkelana"

Adab berkomentar : #1 Dont OOT #2 Jangan Nyepam #Bukan Link Hidup Komentar yang dianggap SPAM akan dihapus secara otomatis

Back To Top