The art of publishing

survei membuktikan, manusia lebih suka hidup di dunia maya

ilustrator

Penduduk Indonesia ternyata lebih suka bersosialisasi di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Demikian hasil survei yang dirilis Ipsos,sebuah perusahaan riset yang di data pada tahun 2013.
 Survei tersebut dilakukan terhadap responden yang belum dan sudah menikah.“Jam kerja yang panjang dan kehidupan yang sibuk sering menghalangi kita mengangkat telepon untuk ngobrol dengan teman atau meluangkan waktu untuk berkumpul. Teknologi internet dan perangkat komunikasi masa kini menawarkan solusi yang mudah untuk bersosialisasi dan tetap berhubungan dengan sesama - sekaligus mengakomodasi beberapa percakapan terjadi pada saat yang sama. Sebagai generasi internet baru yang dibesarkan bersama teknologi dimana untuk berteman hanya perlu satu klik saja, kami yakin bahwa tren ini akan terus tumbuh,” ungkap Iwan Murty, Managing Director Ipsos di Indonesia.
Survei menunjukkan hasil bahwa China sebesar 42 persem, India sebesar 34 persen, dan diikuti Indonesia sebesar 32 persen. Ini merupakan negara-negara dengan penduduk yang menyatakan mereka lebih aktif di dunia maya dibandingkan di dunia nyata.
Sebaliknya Hongaria sebesar 4 persen, Italia (9 persen) dan Jerman (10 persen) merupakan negara-negara dengan penduduk yang menyatakan mereka lebih aktif di dunia nyata dibandingkan di dunia maya.
Disaat semua aspek kehidupan bergerak di dunia maya, timbul kekhawatiran bahwa apa yang terjadi pada kehidupan sosial di dunia maya dapat merusak kesan dan anggapan atasan atau calon pimpinan terhadap seorang karyawan. Di Afrika Selatan sebesar 63 persen, Kanada (62 persen) dan Rusia (59 persen) adalah negara-negara yang penduduknya tidak cemas terhadap apa yang akan dilihat orang lain pada kehidupan sosialnya di dunia maya.
Sebaliknya, Hong Kong sebesar 21 persen, Jepang (22 persen), dan Arab Saudi (22persen) merupakan negara-negara dengan penduduk yang paling cemas terhadap apa yang akan dilihat pada kehidupan sosialnya dapat mempengaruhi kesan atasan atau calon pimpinan kerja terhadap dirinya.  Sementara itu, Indonesia sebesar 29 persen dari hasil survei menyatakan cukup cemas pada kehidupan sosial di dunia maya dapat merusak kesan dan anggapan atasan atau calon pimpinan terhadap seorang karyawan.
Hasil survei yang cukup menarik adalah temuan tentang orang-orang yang berani manyampaikan opini-opini mereka meskipun kontroversial dibandingkan dengan orang-orang yang memilih untuk menjadi tidak berbeda dengan mayoritas.  Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling banyak memilih untuk mengikuti suara mayoritas dibandingkan menjadi yang berbeda dengan angka survei sebesar 93 persen.  Diikuti oleh Brasil sebesar 84 persen dan Jepang sebesar 81 persen.  Sebaliknya Italia sebesar 28 persen dari hasil survei terlihat bahwa penduduknya paling banyak memilih untuk mengekspresikan opininya tanpa mempertimbangkan apakah akan menjadi kontroversial, disusul oleh Arab Saudi (38 persen) dan Rusia (41 persen).
Jejaring sosial di dunia maya juga memberikan dampak terhadap perilaku seseorang dalam membeli barang.  Secara keseluruhan, hampir satu dari empat orang akan membeli barang dengan merek tertentu karena temannya ‘likes’ (suka) atau ‘follows’ (mengikuti) merek barang tersebut pada jejaring sosial di dunia maya.
China merupakan negara yang berada diperingkat pertama dengan hasil survei sebesar 54 persen penduduknya paling banyak membeli barang karena opini temannya.  Disusul dengan India (44 persen), Turki (39 persen) dan Indonesia (39 persen).  
Sebaliknya, Hongaria sebesar 5 persen, Jepang (6 persen) dan Jerman (9 persen) berdasarkan hasil survei didapat bahwa penduduknya tidak terpengaruh dengan opini temannya di jejaring sosial dunia maya dalam pertimbangan membeli barang.  Bagi Indonesia, segmen orang berpendapatan tinggi (50 persen), pemilik usaha (58 persen) dan yang mempunyai jabatan tinggi (52 persen) sangat memperhitungkan opini teman-temannya dalam membeli barang.
Ipsos Global @dvisor dan Ipsos Global @dvisor Omnibus adalah sebuah survei online bulanan terhadap konsumen di 24 negara di dunia melalui sistem panel online Ipsos dan menghasilkan laporan dan studi sindikasi yang dirancang khusus kebutuhan perusahaan, periklanan, agensi PR dan pemerintahan.  Kunjungi www.ipsos.com untuk informasi lebih lanjut tentang produk dan layanan Ipsos.
Negara-negara yang disurvei termasuk Argentina, Australia, Belgia, Brasil, Kanada, China, Perancis, Jerman, Inggris Raya, Hongaria, India, Indonesia, Itali, Jepang, Meksiko, Polandia, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, Swedia, Turki dan Amerika Serikat.  Untuk hasil survei yang ditampilkan disini, sampel internasional dari 18.768 orang dewasa berumur 18-64 tahun di Amerika Serikat dan Kanada, dan umur 16-64 tahun di negara-negara lainnya diwawancara.  Kurang lebih 1000+ individual berpartisipasi secara negara per negara melalui panel online Ipsos dengan perkecualian Argentina, Belgia, Indonesia, Meksiko, Polandia, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Swedia dan Turki, dimana setiap negara tersebut mempunyai sampel kira-kira 500+
 Weighting dijalankan untuk menyeimbangkan demografik dan memastikan komposisi sampel mencerminkan populasi orang dewasa sesuai dengan data sensus negara yang paling mutakhir dan untuk menyediakan hasil yang dimaksudkan mendekati sampel universal.  Sebuah survei dengan sampel probabilitas unweighted dari skala tersebut and 100 persen tingkat tanggapan akan mempunyai marjin kesalahan +/-3.1 poin persentase dari 1.000 sampel dan marjin kesalahan yang diperkirakan +/- 4,5 poin persentase 19 kali dari 20 per negara dari hasil survei seluruh populasi orang dewasa dalam negara tersebut.  Semua sampel survei sesuai dengan sumber-sumber kesalahan, termasuk tetapi tidak terbatas, pada kesalahan jangkauan dan kesalahan pengukuran.
 
Tag : artikel
0 Komentar untuk "survei membuktikan, manusia lebih suka hidup di dunia maya"

Adab berkomentar : #1 Dont OOT #2 Jangan Nyepam #Bukan Link Hidup Komentar yang dianggap SPAM akan dihapus secara otomatis

Back To Top