The art of publishing

selamat jalan mama

Oke sebelumnya bg io ingin jelasin singkat nih, cerpen ini bg io ambil dari lokerseni1 blog, bg io tertarik karena pengarangnya adalah orang daerah bg io, jadi bg io pajang dah, sebagai suatu kebanggaan bagi bg io... hehe

selamat jalan mama

Cerpen Irfan Sona


Aku terduduk lemas diruang tunggu rumah sakit, saat mendengar kabar kalau mama sedang sakit dan masuk ruang UGD. Berjuta perasaan dan pikiran buruk menghantuiku, dia seolah-olah merasuki hati dan fikiranku. Aku bertambah tidak karuan ketika aku melihat seorang dokter menutup pintu ruangan tempat dimana mama dirawat. Didalam penantianku, aku hanya bisa berdo’a dan pasrah kepada Allah SWT. Agar ibundaku tercinta bisa dibebaskan dari penyakitnya. Dalam do’a itu aku memohon kepada tuhan supaya mama bisa terselamatkan dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.

“Ya Allah, sembuhkanlah ibunda hamba, angkatlah semua penyakitnya ya Allah.....” begitulah sekiranya do’a yang aku panjatkan pada sang maha kuasa.

Lima belas menit telah berlalu, dan dari kejauhan tampak seorang Dokter berjalan menuju kearah ruang tunggu. Dan Dokter itu berhenti didekatku. Dia kemudian bertanya”, apakah disini ada keluarganya?” lalu aku mnjawab,” Ya ada, saya anaknya. Bagaimana keadaan mama saya, Dok?” ujarku penuh tanya dan pengharapan terhadap kesembuhan mama. “Alhamdulillah, kami tim medis sudah berusaha keras dan hasilnya mama kamu baik-baik saja.” Katanya memberi pengharapan kepadaku. “ saat ini kondisinya sudah berangsur-angsur membaik dan hanya perlu banyak istirahat.” Lanjut Dokter menerangkan kondisi mama padaku. “Syukurlah kalau sperti itu, terima kasih Dokter.” Ucapku pada Dokter yang menangani mama dirumah sakit itu. “ Dokter, apa saya boleh menjenguknya?” kataku lagi.

“Oh tentu, silakan.” Jawab Dokter itu penuh senyum diwajahnya. Seketika itu kutepis jauh-jauh semua fikiran buruk tentang kondisi mama. Air mata kesedihanku kini tampak mengering dan berganti dengan air mata kebahagiaan. “Terima kasih Ya Allah, engkau telah memberiku kesempatan untuk berada disampingnya lagi. “Ucapku lirih. Setibanya aku diruang 210, tempat dimana mama dirawat, aku langsung duduk dikursi disamping kasur tempat mama berbaring. Aku membelai rambut mama yang kusam dan mengering itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Aku selalu berharap kesembuhan mamaku, aku tak henti-hentinya memanjatkan do’a pada sang pemilik segala penyakit dan pemilik segala obat. Tak lupa kutatap wajah mama yang pucat itu, hampir tak kutemui senyum diwajahnya. Maklum ketika itu mama sedang tertidur, dia belum mengetahui kalau disampingnya ada aku.semakin lama aku menatap wajah mama, maka akhrnya aku menemukan juga sosok keindahan diwajah mama. Wajah yangnampak tenag dan berseri-seri, seolah telah menghapus semua penderitaan dan kesedihannya selama ini. Terutama setelah kepergian ayahku menghadap sang pencipta. Aku terpaku saat itu, dan tanpa disengaja aku mneteskan air mata kesedihan. Air mata yang mengigatkan aku akan kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat selama ini.

Tidak hanya air mata penyesalan yang keluar dari mataku, akan tetapi aku juga menagis terharu saat ingat akan perjuangan mama ketika dia berusaha membesarkanku tanpa sang ayah disisi kami. Sejenak aku terdiam. Dalam lamunanku itu, aku kembali teringat saat-saat dimana mama dengan penuh kasih sayangnya membelaiku, saat masih bisa mnemaniku, memanjakanku, dan mengajarkanku arti kehidupan.

Bagiku, ia sangat menyenangkan. Dia adalah sosok seorang ibu sekaligus teman, yang mungkin tidak semua anak dapat merasakannya. Sungguh betapa beruntungnya aku mendapatkan mama yang seperti dia. Lalu fikiranku kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika aku mulai tumbuh besar dan bisa berfikir sendiri. Dan ketika itu aku baru berusia 4 tahun dan baru saja memasuki masa pertama dalam kancah pendidikan. Aku masuk SD pada usia itu, banyak hal yang aku lakukan pada usiaku yang masih sangat belia itu. Pada saat itu, aku tumbuh menjadi seorang anak yang manja, aku bahkan mulai membatah perkataan mamaku. Aku sering pulang malam, dan aku mulai tak memperhatikan perkataan mama.


Hal itu tentu membuat mama sangat khawatir. Mama selalu tabah menasihatiku, dia selalu menasihatiku dengan penuh kesabaran dan perhatian. Kekerasan dan ego tak pernah ia gunakan dalam mendidikku, tapi agamalah yang menjadi pedomannya untuk terus membimbingku kepada kebaikan dan kebenaran. Ketika aku tersadar dari lamunanku, aku merasa kalau hatiku telah luluh. Aku benar-benar tak tega melihat kondisi mama, apalagi jika melihat usaha mama dalam membesarkanku. Mama selalu bekerja keras mencari nafkah untuk kami, dia selalu membating tulang siang dan malam, serta rela melakukan apa saja demi aku, anaknya. Sejak saat itu aku bertekad untuk merubah diriku dan menjadi anak yang baik serta berguna bagi orang tuaku. Kesedihanku benar-benar pecah ketika aku teringat sosok Almarhum ayah yang lebih dulu meninggalkan aku dan ibu. Aku teringat perjuangan yang ia lakukan untuk kami. Aku juga teringat saat dimana ayah selalu mengajarkanku arti kehidupan dan tujuan hidup ini. Tangisku meledak seketika, air mataku terus mengalir dari pipiku dan menuju kasur yang ibu pakai untuk berbaring.


Ayah meninggal ketika terlalu banyak beban yang harus ia tanggung, maklum ayah selalu berkerja hingga larut malam. Dan hal itu sangat menganggu kesehatannya. Saat teringat akan hal itu, aku benar-benar merasa sudah tidak ada artinya lagi hidup didunia ini. Aku tidak bisa mengantikan sosok ayah, tapi aku justru membuat mama tambah menderita karena harus menanggung beban keluarga sendirian. Dalam hatiku hanya terucap dengan lirih kata maaf, sebagai tanda penyesalanku terhadap sikapku selama ini pada orang tuaku.


Kepergian ayah benar-benar membuat beban yang ibu pikul bertambah berat dua kali lipat. Tubuhnya yang semula indah, khas seorang wanita, kini telah berubah menjadi seorang wanita yang kurus dan tidak terlihat menarik lagi. kulitnya yang kusam dan penuh keringat yang bercucuran didahinya menggambarkan betapa beratnya pekerjaan dan beban yang harus mama pikul. Selama itu pula tak pernah kudengar keluh kesah ataupun penyesalan dari mama selama aku berada disampingnya. Ia benar-benar sosok wanita yang mulia.

Lama aku terdiam, tiba-tiba lamunanku harus berakhir ketika seorang Dokter masuk keruangan kami untuk memeriksa keadaan ibu. ”Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?” tanyaku. “Oh, kamu tenang saja, kondisi ibumu sudah stabil.” Jawab Dokter itu singkat. “Kalau begitu, apa saya sudah bisa meninggalkannya untuk sementara? Karena saya harus kembali sekolah.” Tanyaku lagi.

“baiklah kalau begitu, anda sudah bisa meninggalkannya sekarng. Biar Suster yang menjaga dan menemani mama anda.” Jawab Dokter menyakinkanku. Setelah Dokter meninggalkan ruangan, aku mencium kening mama dengan lembut seraya mengucapkan sebuah kalimat ketelinganya. “Cepat sembuh ya, mama....” ucapku lirih sambil kulangkahkan kaki keluar ruangan. Keesokkan harinya, sesaat sebelum berangkat ke rumah sakit, tanpa disengaja aku melihat kalender yang ada disudut dinding kamarku. Ternyata hari ini tanggal 21 Desember.

“Astaghfirullah, aku hampir lupa kalau besokkan hari ibu? Lalu sesegera mungkin aku pergi ke rumah sakit. Namun, sebelum ke rumah sakit aku sempatkan diriku untuk pergi ke toko kue, untuk membelikan sebuah kue Tart kesukaan mama. Lalu aku juga membeli empat buah lilin yang biasa digunakan untuk lilin kue ulang tahun. Semua itu aku lakukan sebagai tanda pengharapanku supaya mama segera sembuh dan tentunya sebagai bentuk balas jasa atas perjuangan mama selama ini.


Setelah selesai membeli kue, aku kembali melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Selama perjalanan aku tak henti-hentinya membayangkan bagaimana reaksi mama ketika menerima kue kesukaannya. Aku tidak pernah lupa untuk menyelipkan sepotong do’a pada Allah, agar mama segera sembuh dan bisa kembali kerumah secepatnya. Ketika aku sampai dirumah sakit, jam sudah menunjuki pukul 22.30 WIB. Artinya hanya menungggu butuh satu setengah jam lagi hari ibu akan tiba. Karena kelelahan dari perjalanan, akhirnya aku tertidur di kursi dalam kamar dimana mama dirawat. Ketika aku terbangun dari tidurku, aku melihat jam yang ada di kamar rumah sakit itu sudah menunjukan pukul 23.50 WIB. Itu pertanda kalau sepuluh menit lagi pukul 00.00 WIB dan itu adalah waktu yang aku tunggu-tunggu.

Aku mulai menancapkan satu persatu lilin pengharapan keatas kue Tart itu. Saat aku mulai membakar sumbu lilin, aku mulai mengenggam erat tangan ibu. Tangannya terasa hangat, sehangat perhatiannya kepadaku selama ini. Dan dengan segera aku bakar lilin-lilin itu.



“Mama, lihatlah empat lilin itu. Aku berharap kesembuhan untuk penyakitmu dengan lilin yang pertama itu dan begitu pula pada lilin yang kedua, aku ingin mama tahu kalau aku selalu sayang sama mama. Lalu dililin yang ketiga, aku ingin suatu saat nanti, mama melihatku menjadi orang yang berhasil dan bisa membahagiakan keluarga. Dan lilin yang terakhir, aku ingin membuat mama bahagia dengan segala kemampuanku...” ucapku pada mama yang masih terbaring lemas ditempat tidur.

Aku tak mampu menahan kesedihanku, mama menangis melihat aku. Tangisan yang seolah-olah membuat seluruh isi ruangan dikamar itu ikut sedih. Pukul 00.05 WIB, suasana sangat hening, aku hanya bisa terdiam seraya menantap wajah mama dengan tatapan kosong. Aku melihat wajah ibu sedikit pucat, entah apa yang terjadi aku tak tahu. Tiba-tiba aku tak sengaja menyanyikan sebuah lagu.

“kasih ibu, kepada Beta, tak terhingga sepanjang masa...
Hanya memberi, tak harap kembali... bagai sang surya menyinari dunia”

Hanya ini yang mampu aku persembahkan untuk mama. Kemudia aku kembali menyanyikan lagu itu untuk kedua kalinya. Dengan sangat tenang kuletakkan tangan kananku pada tangannya dan tangan kiriku dikening dan rambutnya. Aku tak mampu lagi untuk melanjutkan nyanyianku itu hingga akhir, hanya air mata yang sanggup mengantikannya.

Tepat pukul 00.20 WIB, mamaku mengenggam tanganku erat-erat, dan menarik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali. Aku baru sadar kalau itu adalah pertanda ia akan meninggalkanku untuk selama-lamanya. Tiba-tiba garis-garis dilayar berubah menjadi lurus. Tak mampu keelak lagi, air mataku seketika itu mengalir dengan derasnya hingga membasahi slimut yang ibu pakai. Tangisku pecah saat kupandang wajah mamaku yang sudah tenang meninggalkanku menghadap sang pencipta.



“Mama....mama...jangan tinggalkan aku.....” ujarku lemas. “Selamat Ha....ri...ibu....., maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu....” kataku penuh penyesalan. Mama meninggalkanku pada tangga 22 Desember, tepat dimana seorang anak yang dilahirkan dari rahimnya membenihkan sebuah perhatian dan kasih sayang serta belajar untuk memaknai arti penting kehadiran sosok ibu dihidupnya. Dan ibu juga meninggalkan empat lilin pengharapan yang belum sempat ditiupnya.


Sejak malam itu, aku benar-benar merasakan tiada artinya lagi hidup didunia ini. Sebab semua yang aku cintai dan aku sayangi sudah pergi meninggalkanku. Ayahku, mamaku, dan yang lainya telah tiada disampingku. Hari-hariku benar-benar sepi, sunyi, hampa, dan hampir tidak ada senyum dihari-hariku. Aku benar-benar merasa kehilangan seorang yang paling berarti dalam hidupku. Wajah manis mama selalu membayangi hari-hariku, saat dimana mama tertawa, ketika dia mengajarkanku arti hidup, saat dimana dia mengajarkanku mata pelajaran yang paling tidak aku sukai. Disitu wajah mama selalu muncul, disudut kamar, diruang tamu, dapur, hampir seluruh ruangan wajah mama selalu hadir.

Dalam shalatku, aku tak kuasa menahan tangisku. Sampai-sampai tempat sujudku penuh dengan tetesan air mata. Aku belum pernah merasakan kesedihan yang amat dalam seperti itu. Ketika ayah meninggalkan kami, aku tidak sesedih itu, entah apa karena aku masih sangat kecil ketika itu atau apa, aku tak tahu. Tapi yang jelas, semenjak kepergian mama dari sisiku, aku benar-benar merasa kehilangan.

Sesaat setelah shalat aku sempatkan diriku untuk berdo’a pada Allah, agar mama dipertemukan dengan ayah disurga sana. Dan mereka menjadi tentangga rasul disurga. Setelah selesai berdo’a aku mengambil buku harianku yang penuh dengan foto mama dan ayah, lalu kutiliskan sebuah puisi dalam buku itu sebagai tanda kasih sayangku pada mama.
BUNDA

Bunda………
Semenjak kepergianmu dari sisiku
Aku merasa hampa dan tersiksa
Hidup selalu penuh derita
Bunda……..
Dulu kau selalu membelai daku
Dulu kau selalu bercerita untukku
Sampai aku terlelap di pangkuanmu
Karena mendengarkan cerita mu yang indah
Tapi kini semua hanya tinggal kenangan
Kau telah pergi jauh meninggalkan daku
Untuk selamanya
Bunda……..
Andai kau tahu tentang nasibku kini
Aku yakin kau pasti bersedih
Karena melihat aku yang semakin hari semakin menderita
Tapi aku tidak akan membiarkan kesedihanmu bunda
Aku akan bangkit dan berusaha
Untuk meraih apa yang bunda cita-citakan
Bunda……
Selamat jalan bunda
Doaku menyertaimu bunda

Itulah sebuah puisi yang aku tulis dalam buku harianku, aku benar-benar tak mampu lagi menahan air mataku ketika menat wajah-wajah ayah dan mama yang ada ditiap lembaran album buku diaryku. Hingga pada lembaran yang terakhir aku tuliskan sebuah kalimat untuk mama. “mama.., maafkan aku, aku merindukanmu. Selamat jalan mama, semoga mama tenang dan bahagia dialam sana. Aamiin...”

PROFIL PENULIS

IRFAN SONA, lahir di Desa Nanga Pak, Kecamatan Sayan, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat pada 08 Oktober 1994. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 07 Nanga Pak (lulus 2005) dan melanjutkan ke SMP Negeri 01 Nanga Pinoh, Melawi (lulus 2008). Setelah lulus SMP, dia bertekad untuk melnjutkan studi menengah atasnya di Pesantren Modern Darussalam, Sengkubang (lulus 2011). Saat ini, pemuda yang menyukai gaya rambut cepak ini, sedang menempuh pendidikan S1 di Institut Agama Islam Negeri(IAIN) Walisongo Semarang (masuk 2011).



Semasa kecil dia tinggal di desa Nanga Pak bersama orang tuanya. Ayahnya bernama Akang (alm.) dan ibunya bernama Muri (alm.). Diusia yang ke-2 tahun dia sudah di tinggal pergi oleh ayahnya. Kemudian, dia hidup bersama ibunya. Namun, pada usianya yang ke-5 tahun dia juga harus berpisah dengan ibunya.



Sejak ia ditinggal orang tuanya, pria yang menyukai sepak bola ini tinggal bersama ayah angkatnya yaitu H. Sukiman, S.Pd.MM. Karena tinggal di tempat orang akhirnya dia mulai berfikir tentang hidupnya “ mau dibawa kemana arah hidupnya nanti”. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan kembali sekolahnya yang sempat tertunda karena tidak ada biaya.


Sejak duduk dibangku SD dia sudah aktif dalam organisasi seperti Pramuka dan lain-lain. Tidak hanya dibidang ekstra saja. Di kelas ia terpilih sebagai ketua kelas. Begitu juga pada masa SMP dan MA. Di SMP dia juga aktif di kepramukaan dan OSIS. Sama halnya waktu di MA. Sekarang dia sudah berkecimpung disebuah organisasi yaitu HMI(Himpunan Mahasiswa Islam) salah satiu organisasi mahasiswa terbesar yang ada di Indonesia. Meskipun baru mengikuti latihan kader 1(LK1) tapi dia sudah tidak di ragukan lagi.



Semenjak SD hingga MA kemampuan dia sudah tidak diragukan lagi. Terbukti sejak duduk dibangku SD dia selalu berada diurutan 1 dalam prestasi kelas. Begitu juga di SMP dan MA dia selalu berada dalam urutan 10 besar bahkan 1 dalam urusan peringkat kelas.


Selain pandai dalam bidan Intelektual, dia juga seorang sastrawan muda. Meskipun karya belum dipublikasikan; namun, pada waktu dekat ini dia bertekat akan menjadikan impiannya itu menjadi nyata.


Itulah biografi singkat tentang IRFAN SONA. Seorang yang tidak mudah menyerah pada suatu hal walaupun itu sakit. Dan itu sesuai dengan motto hidupnya yaitu “ Maju Terus Pantang Mundur, Walaupun Badai Menghadang”

Tag : cerpen
2 Komentar untuk "selamat jalan mama"

sama-sama kawan... hidup selalu indah apabila kita pandai bersyukur. terima kasih juga atas cerpenmu yang luar biasa

Adab berkomentar : #1 Dont OOT #2 Jangan Nyepam #Bukan Link Hidup Komentar yang dianggap SPAM akan dihapus secara otomatis

Back To Top