The art of publishing

Drs. Djijoto, MM : dari RRI ke kancah politik

Drs. Djijoto, MM

Bagi pendengar setia RRI Sintang apalagi dikalangan pekerja seni di Kabupaten Sintang, menyebut nama Drs.Djijoto, MM sudah tidak asing lagi. Belum lagi dikalangan masyarakat transmigrasi di kabupaten Sintang sendiri, pamor mantan Kepsta RRI Sintang ini sudah sangat familiar dimasyarakat Jawa transmigrasi.
2 tahun lebih mengabdi sebagai Kepala Stasiun RRI Sintang, Drs.Djijoto, MM yang lebih akrab di panggil Mas Dji ini mendapatkan tugas baru di Tanah Papua tepatnya di RRI Jayapura.

Banyak kenangan yang ditorehkan Mas Dji ini di Kabupaten Sintang khususnya di RRI Sintang melalui kegiatan Seni Budaya. RRI Sintang yang sebelumnya sepi kegiatan, sejak masuknya Mas Dji menjadi hidup dan lebih hidup. Tak hanya dibidang seni budaya, Drs.Djijoto juga adalah penggila bola kaki.

Berbagai event sepakbola, beliau tidak meluputkan untuk diliput secara langsung oleh RRI Sintang waktu itu.

Menyatukan Etnik Lewat Seni

Sosok Drs.Djijoto, MM memang tak bisa dipisahkan dari seni budaya. Budaya Jawa yang begitu kental di dalam dirinya, tidak membuat Mas Dji merasa harus melebihkan budaya asalnya.

“Dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung,” kata Mas Dji ketika di wawancarai kalimantan-news.com via seluler, Selasa (13/09/2011). Padahal saat wawancara, beliau sedang mengikuti rapat koalisi partai.

Selama 2 tahun lebih berada dibumi senentang-kabupaten Sintang, kiprah seni budaya benar-benar menjadi fokus Mas Dji dalam menyatukan etnik yang ada di Sintang.

“Hanya dengan komunikasi budaya, segala perbedaan dapat disatukan. Seni budaya tak lekang dimakan oleh waktu. Dengan seni budaya kita akan dapat memahami sisi kehidupan seseorang yang berbeda budaya,” ujarnya.

Khusus di Kalimantan, lanjut Mas Dji yang memang punya cerita konflik etnik masa lalu adalah tantangan yang sangat besar. Menyatukan perbedaan, katanya tidak hanya sebatas retorika diatas kertas saja, akan tetapi lebih kepada kenyataan riil.

“Kalau diatas kertas, bisa berubah dalam hitungan waktu, tapi jika dibawa kepada kenyataan riil itu akan berbeda hasilnya karena terjadi komunikasi dua arah dari pemilik budaya itu sendiri,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut tidaklah berlebihan, karena penulis sendiri yang pernah bersama Mas Dji sejak dari Palembang hingga Sintang telah melihat secara langsung kiprah beliau di bidang Seni budaya itu sendiri.

Dalam berbagai event kegiatan, beliau selalu mengajak para pekerja seni di Sintang, baik mereka yang menyandang seni Dayak, Melayu, Jawa dan China untuk melakukan kolaborasi. Bahkan dalam seni budaya, Mas Dji lebih berpandangan kontemporer  tanpa menghilangkan jati diri asli dari budaya itu sendiri.

“Seni itu adalah imajinasi. Kita tidak harus selalu saklak dengan yang ada. Artinya bahwa kita harus mampu membaca keinginan publik atau dengan kata lain bahwa jangan sampai ada kejenuhan dalam penampilan baik yang menyaksikan atau yang membawakan dan perlu memodifikasi seni itu sendiri. Memang hal terrsebut kurang dapat diterima sebagian besar pelaku seni klasik atau tradisional,” ungkapnya.

Satu hal yang berhasil dari dunia seni budaya yang dirinya giat lakukan adalah dengan membawa tim kesenian Dayak ke Pulau Dewata, saat dilaksanakan Konferensi ABU-Asia Pasific Broadcasting Union ke-45di Nusa Dua, Bali pada 2008.

“Saya ingat sambutan yang luar biasa diberikan pada kita, saat penampilan kesenian Dayak didepan peserta konferensi, yang selama ini hanya di suguhi tari Jawa atau Bali yang sudah familiar dimata mereka,” ungkapnya lagi.

Khusus bagi masyarakat Jawa, dirinya juga membangun kesenian Jawa lewat Reok Ponorogo yang dalam beberapa kali event selalu ditampilkan. Bahkan untuk RRI Sintang sendiri, lewat kerjasama dengan Bupati Sintang Drs.Milton Crosby yang memberikan sumbangan perangkat gamelan lengkap dengan wayang kulitnya.


Membangun Pluralisme

Tidak hanya dibidang olahraga dan seni, falsafah RRI sebagai perekat persatuan bangsa menjiwai diri Drs.Djijoto, MM. Seiring dengan era reformasi di negeri ini, dimana toleransi sudah masuk angka terakhir sangat menjadi perhatian dari dirinya.

Selaku Kepala RRI Sintang, dirinya berpendapat bahwa Kabupaten Sintang yang terdiri dari berbagai etnik, suku, dan agama adalah sangat rentan jika tidak disikapi dengan baik. Peristiwa kerusuhan etnik di Kalimantan Barat beberapa tahun lalu, telah banyak memberikan pelajaran dirinya selaku jurnalis radio plat merah ini.

“Perbedaan itu adalah potensi yang bagus tapi juga jelek jika tidak disikapi. RRI yang lahir sebagai alat pemersatu harus benar-benar berada digarda terdepan pluralisme. Artinya RRI harus berimbang dan tidak berat sebelah. Semua etnik, suku, dan agama punya porsi yang sama mendapat tempat di RRI,” tegasnya.

RRI Sintang dibawah kepemimpinan Drs.Djijoto, MM dapat dikatakan memberikan warna tersendiri bagi masyarakat Sintang khususnya umat Nasrani (Protestan & Katholik) yang memiliki penganut terbesar, dimana pada setiap Minggu, RRI Sintang melakukan siaran langsung secara bergantian. Demikian pula untuk Muslim yang dilakukan pada Jumat.

Dalam program siaran-pun, dirinya menyediakan celah untuk membangun potensi lokal dengan siaran bahasa Melayu (Senganan), Iban, Ahe, Jawa, Sunda, Batak dan Tiong Hoa.

“Sebenarnya waktu saya di Sintang ada program yang belum kesampaian seperti bahasa Padang atau Minang bahkan membuat berita dalam bahasa lokal. Saya berharap itu dapat dilaksanakan oleh crew RRI Sintang,” katanya.

Pluralisme inilah yang menjadi jembatan dirinya untuk dilanjutkan ditempat tugasnya yang baru di Papua.

Pelaku Seni Kehilangan Tokoh

Atas judul tersebut sekali lagi penulis bukan meng-kultus-kan kiprah Mas Dji, tapi fakta memang menyatakan demikian. Sejak dirinya meninggalkan RRI Sintang pada media Agustus 2009, para penggiat seni seperti kehilangan “sesepuhnya” seni.

“Jujur saja, kami merasa kehilangan tokoh seni seperti babe,” kata Bane dari Sanggar Tari Sultan Nata.

“Babe” adalah panggilan kesayangan para pelaku seni di Sintang kepada Drs.Djijoto. Bane masih ingat saat pagelaran seni Budaya di lokasi transmigrasi yang dihadiri para petinggi LPP RRI.

“Saya ingat, waktu itu kita sampai membentangkan spanduk yang meminta kepada Dirut LPP RRI Bapak Parni Hadi agar mempertahankan babe tetap memimpin RRI Sintang,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Sanli dari Sanggar Sebeji. Menurutnya selama Drs.Djijoto memimpin RRI Sintang, kegiatan seni sangat mendapatkan tempat untuk menunjukkan kreatifitasnya.

“Jarang saya menemukan orang seperti babe itu yang sangat memperhatikan seni budaya. Jujur saja, sejak keberadaan babe di RRI Sintang, hanya beliau yang sangat memperhatikan seni budaya,” kata Sansan panggilan akrab putra Dayak ini.

Sansan dan Bane sepakat bila sepeninggalan Drs.Djijoto ketempat yang barunya di Jayapura, pelaku seni seperti “Anak ayam kehilangan Induk”.

Terjun Kedunia Politik

Saat hiruk pikuk menjelang pemilukada di Kabupaten Sintang, nama Drs.Djijoto, MM sempat disebut-sebut sebagai salah seorang calon pendamping para incumbent ataupun calon kepala daerah lainnya.

Bahkan nama Mas Dji ini disanding-sandingkan dengan Milton Crosby dan Jarot Winarno. Para pelaku seni-pun sangat mendukung jika Mas Dji ini maju sebagai calon pendamping dari calon kepala daerah. Dukungan juga datang dari penduduk Jawa diwilayah perkotaan bahkan lokasi transmigrasi.

Namun demikian, Drs.Djijoto, MM lebih memilih untuk melanjutkan karier di RRI dengan menerima jabatan baru di RRI Jayapura. Dirinya sangat berterima kasih dengan dukungan dari masyarakat Sintang, dan menyatakan belum saatnya untuk kepentas politik.

“Saat itu saya berpikir belum saatnya, dan masih harus menyelami dunia politik. Selain itu saya sendiri masih harus bertanggung jawab dengan RRI karena mendapatkan penugasan baru,” ungkapnya.

Seiring waktu terus berjalan, Drs.Djijoto, MM akhirnya memutuskan untuk terjun kedunia politik di tempat yang baru, Tanah Papua. Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Jayapura adalah jembatan awal dirinya masuk kancah perpolitikan.

Sepak terjang dunia broadcasting dan selaku kepala RRI Jayapura telah menarik beberapa kandidat untuk mengajak dirinya maju sebagai wakil bupati Jayapura. Bahkan pinangan-pinangan tersebut sudah terjadi sejak November 2010 lalu.

“Ada 4 kandidat yang telah menawarkan kepada saya untuk mendampingi sebagai calon wakil bupati,” kata Djijoto.

Namun dari para kandidat yang mengajaknya, dirinya lebih tertarik untuk berpasangan dengan Franzalbert Yoku, seorang Ondopolo/ondoafi (pemangku adat) yang juga adalah Ketua Badan Otorita Adat Sentani, sebagai Balon Bupati/Wakil  Bupati Jayapura 2011-2016

“Saya sepertinya satu ROH dengan beliau. Soal seni dan budaya, saya sangat eksis sesuai dengan misi dari RRI itu sendiri. Sedangkan beliau adalah tokoh adat serta juga Ketua Badan Otorita Adat Sentani. Jadi klop-lah seperti pinang dibelah dua, hahahaha,” tutur Djijoto.

Selain itu, lanjut Djijoto, calon Bupati  Jayapura Franzalbert Yoku adalah seorang yang sangat nasionalisme dan mencintai dan membela kedaulatan NKRI. Dirinya mencontohkan, saat ada pemberitaan mengenai isu yang menyatakan Kongres AS mendukung kemerdekaan Papua, Franzalbert Yoku yang juga adalah Ketua kelompok independen pendukung otonomi khusus Papua dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan tegas membantah hal tersebut.

“Saat itu Pak Franzalbert menyatakan bukan saatnya lagi untuk berpikir Papua harus lepas dari NKRI, karena Papua sudah melewati tahapan tersebut dan kini telah memasuki era baru yakni otonomi khusus,” ujar Djijoto mengulangi pernyataan Franzalbert.

Hal tersebut, lanjutnya lagi menandakan bahwa calon Bupati Franzalbert Yoku adalah seorang pejuang NKRI yang sangat memahami sekali soal Papua baik kedalam maupun keluar.

“Beliau memiliki pemikiran terhadap daerah bukan untuk jangka pendek tapi jangka panjang terutama dalam meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Drs.Djijoto, MM selaku calon wakil Bupati yang berpasangan dengan Franzalbert Yoku selaku calon Bupati pada hari Kamis tanggal 15 September 2011 akan mendaftarkan diri secara resmi ke KPUD Jayapura. Dengan menggunakan bendera tim bernama KUTO, keduanya akan hadir dengan diantar oleh partai pendukung Koalisi Nusantara yakni PDI-Perjuangan, PAN, PIS, PPDI, Hanura dan Republikan.

Sejumlah program telah dibuat dan akan ditawarkan pasangan ini kepada masyarakat Kabupaten Jayapura. Dengan mengusung program GERBANG EMAS, dengan program utama keamanan, kesehatan dan pendidikan sebagai dasar peningkatan ekonomi menuju masyarakat kabupaten Jayapura yang sejahtera.

“Banyak di kabupaten ini lahan yang tidak tergarap dengan baik, untuk itulah pasangan KUTO akan menjadikan lahan tidur tersebut yang jumlahnya ribuan hektar sebagai lahan persawahan guna menjadikan Jayapura sebagai wilayah yang Surplus beras tahun 2015. Mohon do’anya untuk Pilkada 11 November 2011 nanti,” pungkasnya. (*)

BIODATA

Nama                            : Drs.Djijoto, MM
Tempat/Tanggal Lahir     : Wonogiri, 26 Juni 1953
Agama                          : Islam
Domisili                         : Jayapura
Pendidikan                    : S2 Management SDM, FIE Jakarta 1996
Nama Isteri                   : Mulyatmi
Anak                             : 5 (lima), 2 putera-3 puteri
Jabatan Tertinggi            : Kepala RRI Sintang dan Kepala RRI Jayapura

sumber : kalimantan news.com
Tag : artikel
0 Komentar untuk "Drs. Djijoto, MM : dari RRI ke kancah politik"

Adab berkomentar : #1 Dont OOT #2 Jangan Nyepam #Bukan Link Hidup Komentar yang dianggap SPAM akan dihapus secara otomatis

Back To Top