The art of publishing

nasib kaum marjinal yang makin memprihatinkan

Dewasa ini, diakui atau tidak, di negeri ini bencana alam seakan tak pernah berhenti mengintai kehidupan kaum marginal. Selain gelombang bencana alam yang senantiasa menderu, musibah sosial juga menjadi malapetaka bagi kehidupan kaum miskin. Warga kecil yang hidup di desa terpencil merasakan pengapnya kehidupan. Sebab, kebutuhan hidup terus meroket dan tak terjangkau.

Harga bahan makanan yang menjadi konsumsi harian warga kecil naik berlipat. Akibatnya, warga miskin yang terbelenggu krisis ekonomi seakan ditikam pisau tajam pelan-pelan. Inilah prahara di zamrud  khatulistiwa yang sedang dihantam badai musibah.
PADAHAL, warga kecil baru saja berkabung karena bencana alam yang merenggut kesejahteraan. Seperti, kekeringan, tanah longsor, banjir, dan meletusnya gunung merapi di berbagai daerah Indonesia. Bahkan, bencana alam  masih mengintai untuk menenggelamkan sisa kebahagiaan warga kecil. Oleh karena itu, semua warga di berbagai daerah kabupaten di Indonesia harus waspada dengan bencana yang senantiasa menerkam. Kaum miskin yang hidup dengan toleransi kesederhanaan, napas tersengal, dan kerja fisik yang menguras habis energi seakan tak percaya, bahwa bencana tak pernah berhenti menggempur kehidupan.
Sementara, pejabat dan penguasa hidup mewah dan menebar pesona di panggung politik. Pemerintah seakan lupa dengan tugas utamanya, menyuplai kesejahteraan bagi warga kecil. Politisi negeri ini gemar dengan perang kritik, melempar isu getir ke berbagai media dan menyebarkan virus permusuhan di tengah polusi politik yang mencapai tahap kronis. Panggung politik negeri ini, kembali memainkan drama adu kekuatan antar pemimpin, hingga saling mengejek dan menyemburkan idiom-idiom negatif.
Adu kritik di ’’republik poco-poco’’ dan ’’negeri dansa’’ semakin membawa kepedihan kaum miskin. Ibaratnya, gajah besar beradu kuat, hewan kecil dan rumput menjadi korban. Benturan egoisme antar politisi, justru membuat langit negeri ini semakin mendung, dan solusi alternatif perbaikan bangsa tak akan pernah digapai. Ranah hukum negeri ini juga semakin carut-marut. Kasus korupsi dan white collar crime (kejahatan kerah putih) lainnya seakan tak pernah tuntas ditangani. Dunia hukum negeri ini terlihat semakin suram, keadilan kembali dipertanyakan. 
Kaum marginal yang terbenam di kubangan kemiskinan telah letih menahan gempuran bencana, yang dibutuhkan adalah cahaya di fajar kesejahteraan. Meskipun jumlahnya besar, akan tetapi warga kecil tak pernah mencapai jenjang spoken majority, hanya menjadi silent majority (mayoritas bisu) dengan ruang apresiasi yang sempit.
Jeritan serta tangis pedih kaum miskin tak banyak didengar pemerintah, hingga membuat napas warga kecil semakin sesak. Mahalnya makanan, sulitnya memperoleh pekerjaan dan ancaman pemecatan membuat warga berdiri di ambang batas ketabahan. Di beberapa daerah, kaum miskin dengan bibir bergetar makan dengan kandungan gizi yang jauh dari standar kesehatan.
Selain itu, meroketnya harga bahan makanan menyebabkan pedagang dan pengusaha kecil menjerit. Mahalnya kedelai, naiknya harga terigu, minyak tanah langka dan melonjaknya tarif bahan makanan membuat warga kecil merana. Betapa tidak, selama ini, mereka hidup dari sisa pendapatan bekerja sebagai tukang gorengan, pengusaha tempe, dan penjual kerupuk dengan modal tipis, dan tentu, keuntungan hanya cukup untuk menyambung hidup sehari. Hal inilah yang membuat penulis semakin gundah, ketika masih tetap di negeri ini, tanpa adanya satu kemajuan yang berarti atas kesejahteraan rakyat Indonesia.
Political Will
Oleh karena itu, melihat carut-marutnya kehidupan di negeri ini, sudah saatnya pemerintah merancang strategic planning ketahanan pangan dan penguatan ekonomi yang berbasis masyarakat, serta mengaktualisasikan dalam jejak kehidupan bangsa. Kebijakan ekonomi dan politik pangan tanpa menggandeng peran serta warga, akan jadi goyah ketika diterpa guncangan moneter luar negeri. Krisis ekonomi membuat jantung kehidupan bangsa berdegup kencang. Hal inilah yang membikin cemas Mac Iver –dalam The Modern State (1984)– bahwa persoalan utama dalam kekuasaan politik adalah sengkarut problem ekonomi.
Maka di negeri subur seperti Indonesia ini, hendaknya impor kebutuhan pangan dikaji ulang. Sektor pertanian secepatnya disemarakkan. Dengan demikian, dibutuhkan political pemerintah untuk menginternalisasikan kebijakan positif dalam denyut nadi politik bangsa. Hal penting yang sebenarnya dibutuhkan bangsa ini, adalah upaya serius untuk meminimalisasi kemiskinan, membangun infrastruktur yang meminimalisasi dampak bencana dan menyalurkan dana filantropi secara tepat.
Dana sosial yang digulirkan pengusaha dan donatur di negeri ini hendaknya dihimpun dan dikembangkan untuk kemaslahatan bangsa. Penyaluran donasi yang tidak tepat hanya akan menjadikan rakyat terluka, dana mubazir, dan gelembung tawa pejabat korup merebak.
Demikian juga  membangun modal sosial (social capital) menjadi penting dilakukan. Rekonstruksi kesadaran kepada rakyat untuk menghargai nilai solidaritas, empati, kesatuan dan persamaan visi akan menjadikan efek sosial pasca-bencana luruh seketika dan kemiskinan akan terkikis. Inilah pentingnya social capital sebagai value dan peneguh orientasi kebangsaan. Jadi, imbauan Francis Fukuyama (2002), agar transformasi kearifan dan etika kehidupan berlangsung optimal menarik dipahami. Kekuatan inilah, tegas Fukuyama, yang menjadikan low-trust beranjak ke high-trust dan dari low-social capital, menerobos high-social capital. Menghargai kearifan lokal, gotong-royong, dan empati publik menjadi modal sosial untuk mengempaskan kesedihan pasca-bencana.
Betapa paradoks keadilan menjadi atmosfer kehidupan negeri ini. Jangan lupa, sakitnya rakyat kecil lebih parah daripada sakit yang diderita pejabat. Jangan sampai, banjir dan musibah sosial yang terjadi di berbagai daerah berubah menjadi ’’banjir air mata’’ kesedihan warga. Pemerintah seharusnya memberikan perhatian seimbang, sehingga kesejahteraan ada dalam genggaman warga kecil. Maraknya kemiskinan di negeri yang kaya sumber daya alam merupakan hal ironis. Sudah saatnya, Bangsa ini membutuhkan ’’cahaya’’ untuk menerangi gelapnya kehidupan kaum miskin di negeri ini. (*)
Tag : Opini
0 Komentar untuk "nasib kaum marjinal yang makin memprihatinkan"

Adab berkomentar : #1 Dont OOT #2 Jangan Nyepam #Bukan Link Hidup Komentar yang dianggap SPAM akan dihapus secara otomatis

Back To Top