The art of publishing

kaum marjinal

Meskipun sudah lama terjadi, cerita ini masih selalu hangat untuk didengar, dan menjadi renungan bagi banyak orang.  Kurang lebih 5 tahun lalu,  media-massa ibukota geger.  Pasalnya, suatu siang, di kota Jakarta, ada seorang laki-laki, berprofesi pemulung, bernama Supriono, terpaksa menggendong jenazah anak perempuannya, berusia 3 tahun, bernama Khaerunisa, yang artinya perempuan yang baik, perempuan sejatinya.  Supri sedang bingung, bagaimana memakamkan puterinya, yang baru tadi pagi meninggal dunia, di perut gerobak, kendaraannya untuk memulung. Nisa menderita muntaber 4 hari yang lalu, dan tidak diobati dengan benar. 

Tidak diceritakan, kemana isteri Supri, ibu Khaerunisa, tapi saat itu mereka hanya bertiga, didampingi kakak Khaerunisa, bernama Muriski Saleh, yang juga masih kanak-kanak, berumur 6 tahun.  Tak tahan menanggung sakit diarhe berkelanjutan yang disertai panas tinggi dan muntah-muntah, akhirnya Khaerunisa menyerah.  Dia tak kuasa menahan penyakitnya.  Khaerunisa meninggal tadi pagi, dibawah jembatan layang Cikini.  Supri hanya sekali membawa puterinya ke Puskemas, 3 hari lalu. Meskipun hanya diminta biaya administrasi Rp 4.000, Supri tidak meneruskan pengobatan Nisa.  Semula Supri masih mengharap agar puterinya bisa sembuh dengan sendirinya, seperti yang selama ini terjadi bila dia atau anak-anaknya sakit.  Tapi, kali ini suratan takdir berkata lain.  Tak heran, karena sebagai pemulung, Supri hanya berpenghasilan rata-rata Rp 10.000 per hari.  Tetapi, drama kematian putri Supri belum berakhir, bahkan drama sejatinya, baru dimulai.

13119045862127385936
Kemudian, Supri membawa anaknya berjalan kaki ke stasiun Tebet, untuk meneruskan perjalanan ke desa Kramat, Bogor.  Disana ada kampung pemulung yang, siapa tahu, bisa membantu memakamkan Nisa secara gratis.  Supri menggendong puterinya dengan sarung, satu-satunya harta  yang tertinggal, tetapi muka Nisa dibiarkan terbuka, tidak selayaknya membawa jenazah, agar orang tidak curiga kalau Nisa sudah tiada.  Dia berjalan dan berjalan, sejauh hampir 3 km, dibawah terik matahari, dengan hati yang bercampur aduk.  Sesampainya di Tebet, Supri dengan sabar menunggu KA tiba. 

Muriski Saleh, belum menyadari bahwa sejak hari itu, dia tak lagi punya kawan bermain. Dia sudah tidak punya adik.  Dia menjadi seorang diri.  Oleh karenanya, dia masih asyik bermain.  Adiknya dibiarkan “tidur” di dekapan bapaknya, tanpa nyawa, sampai tiba-tiba, entah karena apa, seorang pedagang asongan menyapa Supri dan menanyakan keadaan anaknya.  Supri mengaku dengan jujur bahwa anaknya telah meninggal.  Pengakuan itu ternyata membawa Supri semakin kerepotan.  Dia dibawa ke Pos Polisi Tebet untuk diinterogasi.

Belum selesai urusan Polisi, Supri sekeluarga harus ke RS Cipto Mangunkusumo, untuk mendapat Surat Kematian dan Surat Pembawa Jenazah ke luar kota.  Disini urusan administrasi dan birokrasi bercampur menjadi satu, dan membelit Supriono, yang sedang gundah-gulana, sedang berduka, untuk kembali menjadi korban kekejaman ibukota.  Setelah bolak-balik dipingpong oleh administrasi perkotaan yang ruwet, Supri yang entah punya KTP atau tidak, akhirnya menggenggam surat-surat sakti yang dibutuhkan itu.  Tapi, dia harus kembali berjalan kaki untuk mencari kendaraan umum ke Bogor.  Sore itu, Supri, Muriski Saleh dan Almarhumah Khaerunisa menghilang dari jalanan ibukota, entah mau kemana, untuk mencapai tempat peristirahatan Khaerunisa yang terakhir.  Selamat jalan Nisa……Ikut berduka Lik Supri, ikut bersedih mas Riski, Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Raaji’oon.

Cerita pedih seperti yang dialami Supriono, banyak sekali terjadi di kota besar seperti Jakarta.  Jumlahnya mungkin beratus-ratus atau beribu-ribu kisah yang dapat menguras air mata mereka yang membacanya.  Di dalam Ilmu Sosial, orang seperti Supriono dan keluarganya, disebut sebagai kaum marjinal, mereka yang terpinggirkan, mereka yang terlupakan, mereka yang tidak dihitung.  Menurut  Hetifah Sjaifudian, Ph.D, ahli Ilmu Sosial dan aktivis Yayasan AKATIGA-Surakarta, biasanya  kaum marjinal diidentikkan dengan mereka yang miskin.

Tetapi, kaum marjinal tidak serta-merta identik dengan miskin.  Orang miskin, hampir pasti menjadi kaum marjinal, tetapi kelompok terpinggirkan belum tentu karena miskin.  Kemudian,  siapakah kaum marjinal itu, selain pemulung seperti Supriono?  Mereka adalah orang-orang yang secara ekonomi, agama, hukum, sosial, politik atau budaya tidak mempunyai akses kepada kehidupan yang sejahtera, aman, nyaman, damai dan berkembang.  Mereka secara struktural, secara sengaja, secara sistematis, secara terencana dipinggirkan agar tidak “mengganggu” kaum-tengah.  Dan, celakanya, kaum-tengah yang meminggirkan kaum marjinal adalah   saya, anda, teman-teman kita dan kita semua, bahkan negara, yang sedikit atau banyak telah berkontribusi, atau, paling tidak, membiarkan ketika kaum marjinal disingkirkan.

Kisah Supriono mirip dengan sangat banyak cerita serupa.  Seorang teman saya yang berkantor di bilangan Cilandak, menjumpai kisah senada yang tak kalah heroik,  yang tak kalah mengharukan.  Ketika sore hari dia pulang dari tempat kerja menuju rumahnya di bilangan Rempoa, naik minibis Koantas Bima, nomer trayek 509, jurusan Kampung Rambutan-Lebak Bulus, dijumpai kisah mengharukan ini.  Ketika sang teman sedang duduk di bis yang kebetulan agak kosong, dia baru menyadari bahwa kernet yang bertugas mengutip ongkos bis, ternyata seorang perempuan.  Yang lebih mengagetkan, si kernet sedang hamil.  Dia mengenakan gaun hamil panjang yang agak longgar, meskipun tetap terlihat bahwa perutnya membesar.  Suaranya lantang meneriakkan tujuan bis yang diawakinya untuk menarik penumpang sebanyak mungkin.  Gerak-geriknya gesit, naik dari pintu belakang dan lompat turun dari pintu depan, menggiring penumpang yang baru naik atau akan turun.  Tugasnya tak terganggu dengan keperempuannya atau bahkan kehamilannya.

Ketika sempat ngobrol, teman saya berhasil mengorek beberapa informasi tentang perempuan perkasa yang gagah-berani itu.  Namanya, sebut saja, Upik, berusia kira-kira 30 tahun, dengan usia kehamilan 6 bulan, dan kandungan ini merupakan anak keduanya.  Suami Upik bekerja di bengkel di Pasar Minggu sebagai helper, yang tentunya berpenghasilan pas-pasan. Tak heran kalau Upik masih harus berjuang membanting tulang, agar dapurnya tetap menyala dan yang penting mereka mempunyai tabungan untuk biaya persalinan, 3 bulan mendatang.

Andai saja, nanti, anak mereka lahir, tentunya dia tak tahu bahwa ibunya pernah berjibaku, berjuang dengan gagah-berani untuk kehidupan sang anak, buah hati mereka berdua, pasangan kernet bis Koantas Bima dan montir bengkel rendahan di Pasar Minggu.  Upik adalah bagian dari kaum marjinal.  Upik adalah Kartini atau Cut Nyak Dien  atau Dewi Sartika masa kini.  Pahlawan keluarga yang seharusnya beristirahat cukup, karena kehamilannya, tetapi harus tunggang-langgang memikirkan bagaimana keluarganya harus makan dan jabang bayi harus lahir.

Supriono dan anak-anaknya, Upik dan suaminya, atau ribuan atau jutaan kelompok pinggiran lainnya adalah kaum marjinal yang tidak gampang dikalahkan.  Meskipun mereka sadar bahwa lawannya sangat kuat, bahwa mereka yang seharusnya melayani dan mendukung justru menjadi penyebab utama, bahwa masa depan yang berpengharapan masih sangat jauh disana, tetapi mereka tetap optimis dan pantang menyerah.  Kerja keras pemulung,  pedagang kaki-lima, tukang ojeg, tukang sayur,  buruh tani,  nelayan kecil, kernet atau sopir kendaraan umum adalah bukti  bahwa kaum marjinal tidak lemah.  Seolah-olah tidak perlu bantuan kita, kaum tengah yang sering justru meminggirkan mereka.

Saya ingin mengingat satu ajaran Mother Teresa, pejuang dan tokoh kemanusiaan dari Calcuta, yang dikutip dari salah satu buku tentangnya, “The poor, the marginalized, and the ones who are not counted; they exist because we create them. Especially by the superstructure, and then by me, by you, - by all of us.  Consequently, it is our responsibility to help elevate them”.   Kaum marjinal ada dan sering “mengganggu” kita, karena negara membuatnya, karena kita ikut membiarkannya, sangat wajar kalau kita harus menengahkannya kembali.

Catatan : Terima kasih untuk sahabat saya, Ida, yang telah bercerita tentang kernet perempuan yang sedang hamil, sambil matanya berkaca-kaca.
Tag : cerpen, warkop
0 Komentar untuk "kaum marjinal"

Adab berkomentar : #1 Dont OOT #2 Jangan Nyepam #Bukan Link Hidup Komentar yang dianggap SPAM akan dihapus secara otomatis

Back To Top